Muktamar XI Nasyiah

Untuk kedua kalinya Nasyiatul ‘Aisyiyah menggelar muktamar secara mandiri. Kali ini bertempat di Gedung LAN Antang Makassar, Sulawesi Selatan, pada tanggal 17 – 21 Nopember 2008, sekitar 800 peserta dari berbagai penjuru tanah air mengikuti serangkaian agenda Muktamar XI yang mengusung tema “Memantapkan Gerakan Aksi Nasyiatul ‘Aisyiyah Dalam Meningkatkan Kualitas Hidup Bangsa”.

Sebagaimana muktamar pada umumnya, ada tiga agenda rutin dalam muktamar kali ini, yaitu Laporan Pertanggungjawaban Pimpinan Pusat Nasyiah yang kemudian dicermati/ditanggapi oleh peserta siding melalui wakil-wakil wilayahnya. Agenda berikutnya adalah penyusunan program kerja yang akan menjadi acuan untuk kepengurusan selanjutnya, dan agenda puncaknya adalah pemilihan pimpinan untuk periode 2008 – 2012. Selain itu Muktamar XI ini juga mengesahkan perubahan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga yang perumusan perubahannya telah dimulai sejak Muktamar X di Solo 2004 silam.

Melalui wakilnya, kontingen Jawa Timur yang berjumlah 32 orang, menyampaikan tiga hal untuk menjadi perhatian pimpinan selanjutnya sebagai tanggapan terhadap LPJ PPNA. Yang pertama, hendaknya PPNA melakukan pengawalan yang lebih intensif terhadap terlaksananya program – program, terutama program yang dicanangkan sebagai “Gerakan Nasional”. Ada dua program nasional pada periode ini yang menurut PWNA Jawa Timur belum terealisasi secara menyeluruh di tingkat nasional, yaitu Program pendirian Family Learning Center sebagai upaya gerakan “Hapus Kekerasan Terhadap Perempuan Sampai Titik 0” dan program “Gerakan Seribu Ranting”. Program – program semacam ini mestinya memperoleh perhatian yang besar dan pengawalan progress yang intensif sehinga terrealisasi di semua wilayah Indonesia dan menjadi semacam trade mark Nasyiah untuk lebih mudah dikenali orang. Kedua, meminta kepada PPNA agar memberi ruang partisipasi kepada Pimpinan Wilayah untuk turut serta merumuskan beberapa kebijakan program, khususnya program yang sasaran pelaksanaannya pada tingkat grass root. Hal ini dianggap penting, agar kebijakan – kebijakan tersebut lebih relevan dan dapat dijangkau pelaksanaannya di tingkat daerah,cabang maupun ranting. Sedangkan poin ketiga yang disampaikan adalah meminta kepada PPNA untuk meningkatkan koordinasi dengan PWNA khususnya dalam pelaksanaan program yang dikelola bersama (dalam hal ini program yang dicontohkan adalah JPPR). Transparansi perencanaan program serta respon atas kendala yang cepat adalah dua hal penting dalam koordinasi yang dimaksud, sebab dua hal itu yang menjadi syarat sebuah tim bisa solid dalam melakukan kerja sama.

Pada pembahasan program kerja Nasyiah ke depan, ada perubahan dalam hal fokus gerakan melalui pembagian bidang/departemen pengelola program. Pada perode sebelumnya, bidang-bidang pengelola program yang ada adalah Kader, Dakwah, Pendidikan & Kebudayaan, Sosial Ekonomi dan Komunikasi & Informasi. Selanjutnya bidang-bidang tersebut didefinisikan ulang sesuai dengan fokus gerakannya menjadi Bidang Organisasi, menyangkut penciptaan efektifitas sistem organisasi serta peningkatan kinerja pimpinan. Bidang kaderisasi merupakan perwujudan dari komitmen Nasyiah untuk menjadi kader Muhammadiyah maupun ‘Aisyiyah. Bidang keislaman yang merupakan ruh gerakan sehingga cita-cita/tujuan untuk “Membentuk putri Islam yang berarti bagi keluarga, bangsa dan agama menuju terwujudnya masyarakat Islam yang sebenar-benarnya” bisa terealisasi dengan sebaik-baiknya. Bidang keempat adalah bidang kemasyarakatan yang tentu saja juga akan menjadi sangat penting mengingat Nasyiah telah menyatakan diri sebagai sebuah organisasi kemasyarakatan. Melalui bidang inilah Nasyiah mampu memantapkan aksinya untuk meningkatkan kualitas hidup bangsa.

Pada agenda puncak, Abidah Muflihati, S.Ag, M.Si, akhirnya terpilih sebagai Ketua Umum Pimpinan Pusat Nasyiatul ‘Aisyiyah periode 2008 – 2012 menggantikan Evi Sofia Inayati S.Psi. Keputusan ini diambil setelah melalui tiga tahapan pemilihan. Yaitu tahap penyaringan 53 bakal calon menjadi 27 calon tetap dalam sidang Tanwir III, pemilihan 9 anggota formatur dari 27 calon tetap dalam sidang pleno muktamar dan akhirnya keputusan diambil setelah melalui sidang formatur.

Secara umum pelaksanaan Muktamar XI ini berlangsung aman dan tertib sejak dibuka oleh Menteri Pemberdayaan Perempuan RI, Meutia Hatta, sampai dengan penutupan oleh Ketua Umum Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah, Prof Chamamah Suratno. Di antara sekian banyak perubahan AD/ART yang ada, salah satunya adalah perubahan periodisasi pimpinan Nasyiah dari semula 4 tahun untuk pusat, wilayah dan daerah, serta 2 tahun untuk cabang dan ranting, sekarang menjadi 4 tahun untuk seluruh tingkatan. Semoga segala keputusan Muktamar XI ini mampu membawa Nasyiah ke depan menjadi semakin baik.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>