Berbincang Tentang Perempuan

Bulan April identik dengan perjuangan perempuan Indonesia untuk mendapatkan hak – hak kesetaraan dengan lelaki di ruan publik. Tanggal kelahiran Kartini ditetapkan sebagai hari kebangkitan perempuan Indonesia. Melalui ruang intelektual, Kartini berusaha mendobrak tatanan kultus Jawa yang memposisikan perempuan sebagai second sex, dimana perempuan Jawa tidak memiliki hak untuk mendapatkan pendidikan yang diinginkan, tidak memiliki hak untuk memilih calon suami dan bersedia menikah dengan lelaki yang tidak dikenalnya. Melalui tulisan – tulisannya Kartini, mengungkapkan kegelisahannya. Namun, pada akhirnya dia tetap harus tunduk dengan hukum patriarkhal Jawa, Kartini dinikahkan dengan bupati Jepara yang telah beristri tiga. Toleransi yang dimunculkan dalam dirinya, mendorong suaminya untuk mendukung cita – cita Kartini untuk mendirikan sekolah Bumiputera khusus untuk kaum perempuan. Awal gerakan yang dimunculkan Kartini, melahirkan gerakan perempuan yang luar biasa, seperti Dewi Sartika yang merintis sekolah perempuan di Jawa Barat, Rohana Kudus penulis perempuan dari Minangkabau, serta lahir pula organisasi gerakan perempuan seiring dengan pertumbuhan organiasasi pergerakan nasional Indonesia.

Jauh sebelum Kartini lahir dengan ide – ide briliannya untuk kesetaraan perempuan di Inodonesia, bangsa kita telah memiliki perempuan – perempuan hebat yang berperan di bidang politik. Ratu Sima dengan kegigihannya mempertahankan kejujuran, dia rela menghukum anak kandungnya yang terbukti telah mencuri emas milik Negara, Tribuwahana Tungga Dewi, Ibunda dari Hayam Wuruk, berhasil membawa kerajaan Majapahit dari ancaman keruntuhan menuju Negara yang kuat dan berpengaruh di Nusantara.

Sejarah Islam turut pula mencatat perempuan – perempuan luar biasa yang berhasil mengubah dunia. Ratu Balqis dengan keberaniannya pemimpin pasukannya bergerak dari Somalia Afrika menuju ke Yerusalem untuk bertemu dengan Nabi Sulaeman, Aisa istri Raja Firaun yang berani menentang tirani suaminya untuk tetap menyembah Allah SWT, Ibunda Hajar , dengan kerelaan hati tinggal di tengah padang pasir Makkah untuk menjaga amanat suaminya Nabi Ibrahim, berlari dari Safa dan Marwah guna mendapat setetes air untuk menyambung kehidupan beliau dan anaknya yang kelak menjadi seorang Nabi pula.

Pada masa Rasulullah, banyak sekali model yang bisa kita contoh tentang kesetaraan perempuan dengan laki – laki. Ibunda Khadijah adalah perempuan pengusaha yang diperhitungkan pada saat itu, Ibunda Aisiyah sang intelektual muda, melalui kecerdasan otaknya banyak hadis yang diriwayatkan melalui beliau. Zaynab binti Jahsy, profesinya sebagai penyamak kulit binatang, Ummu Salim binti Malhan yang berprofesi sebagai tukang rias pengantin, istri Abdullah ibn Mas’ud dan Qilat Ummi Bani Anmar dikenal sebagai wiraswastawan yang sukses, al-Syifa’ yang berprofesi sebagai sekretaris dan pernah ditugasi oleh Khalifah ‘Umar sebagai petugas yang menangani pasar kota Madinah. Begitu aktif kaum wanita pada masa Nabi, maka ‘A’isyah pernah mengemukakan suatu riwayat “Alat pemintal di tangan wanita lebih baik dari pada tombak di tangan kaum laki-laki.” Dalam riwayat lain Nabi pernah mengatakan “Sebaik-baik permainan seorang wanita muslimah di dalam rumahnya adalah memintal/menenun”.

Kedudukan perempuan pada masa Nabi sering dilukiskan dalam syair sebagai dunia mimpi (the dream of woman). Kaum perempuan dalam semua kelas sama-sama mempunyai hak dalam mengembangkan profesinya . Seperti dalam karier politik, ekonomi, dan pendidikan, suatu kejadian yang sangat langka sebelum Islam. Tidak ditemukan ayat atau hadits yang melarang kaum perempuan aktif dalam dunia politik. Sebaliknya al-Qur’an dan hadits banyak mengisyaratkan kebolehan perempuan aktif menekuni berbagai profesi.

Dalam Q., s. al-Tawbah/9:71 dinyatakan:

“Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebagian mereka adalah auliya bagi sebagian yang lain, mereka menyuruh mengerjakan yang ma’ruf, mencegah yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan taat kepada Allah dan rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat dari Allah, sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”.

Kata awliya’ dalam ayat tersebut di atas menurut Quraish Shihab mencakup kerjasama, bantuan, dari penguasaan; sedangkan “menyuruh mengerjakan yang ma’ruf” mencakup segala segi kebaikan, termasuk memberi masukan dan kritik terhadap penguasa.

Apabila dilihat dari jejak sejarah sosial tentang keberadaan perempuan pada masa kenabian Muhammad SAW serta pada masa klasik di Indonesia, perempuantelah menunjukkan rekayasa kesetaraan gender. Tidak ada pertentangan yang berarti tentang kedudukan perempuan di ruang public serta tentang kedudukan lelaki di ruang domestik. Kerjasama yang harmonis antara lelaki dan perempuan telah menempatkan dua makhluk manusia yang berbeda sebagai dimensi subjek yang saling melengkapi dan menghargai.

Lompatan peristiwa tersebut seolah terlepas ketika dunia masuk pada masa penguasaan Eropa di dunia (abad 15 – 16). Kawasan Eropa yang dibelenggu dalam doktrin nasrani dan perpaduan konsep budaya hellenistik dan Yahudi, kembali menempatkan perempuan sebagai the second sex. Pada masa ini perempuan ditempatkan sebagai makhluk setengah manusia dan penyihir. Bahkan tradisi Yahudi menegaskan bahwa perempuan adalah “setan betina” yang harus diwaspadai. Seiring itu pula hukum fiqih Islam juga turut terpengaruh pada kebudyaan patriarkhal suku bangsa Arab yang kembali menempatkan perempuan sebagai manusia setengah merdeka berbeda dengan konsep perempuan pada masa Nabi Muhammad SAW. Hal inilah yang kemudian mendorong kaum perempuan untuk berjuang kembali mendapatkan kesetaraan dan pengakuan tentang kemampuan dirinya di ruang publik serta mengharapkan kerelaan kaum lelaki untuk menyeimbangkan potensi dirinya di ruang domestik.

Belenggu tradisi Eropa yang mengakar kuat di dunia saat ini (karena kemenangan di Perang Dunia II) telah mewarnai konsep pemikiran manusia di seluruh dunia. Pertentangan paham pengertian gender yang beragam juga turut mempengaruhi kontruksi sosial di masyarakat. Jika konsep pemikiran di masyarakat tetap pada ideologi tradisional Eropa maka kedudukan perempuan tidak akan pernah berubah, perempuan tetap harus terus berjuang untuk mencapai kesetaraannya. Sementara sejarah Islam yang sebenarnya sesuai dengan ajaran di Al Quran telah menempatkan perempuan dalam posisi yang benar – benar setara dan tidak ada perbedaan. Konsep berpikir inilah yang harus terus kita dengungkan. Sehingga kita bisa mewujudkan dunia impian kaum perempuan pada masa Rasulullah SAW.

Malang, 18 April 2011

Nurul V3

Sumber

Jurnal pemikiran Islam Paramadina

Resume Diskusi Nasyiah Kota Malang

Sejarah Kartini







Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>