Kritik tajam yang disampaikan adalah tentang pola pengemasan ruang kegiatan. Desain aula secara normatif, dianggap beliau tidak menunjukkan pencitraan yang menarik. Tata letak ruang yang tidak bermanfaat seperti tempat duduk di podium yang tidak dimaanfaatkan selama prosesi pembukaan menjadi sebuah pertanyaan besar. Backdrop yang minimalis dianggap tidak memiliki nilai artistik. Posisi tripod layar LCD juga dianggap tidak tepat, karena tampilan layar tidak bisa dinikmati oleh seluruh peserta. Menurut beliau kesan pertama begitu “berantakan” (huff).
Penyampaian pesan yang disampaikan oleh beliau, merupakan ilmu yang tidak sempat terpikirkan oleh panitia. Kritik membangun harus diterima dan dijadikan ilmu baru. Berdasarkan kritik tersebut terbersit pemikiran, setelah kegiatan ini mungkin perlu diadakan pelatihan public speaking dan public relation sebagai dasar membentuk pencitraan positif pada setiap kegiatan yang diadakan PW Nasyiah Jatim. Sehingga peserta yang hadir dalam kegiatan tersebut akan berucap “kesan pertama begitu menggoda”
]]>Pimpinan Wilayah Nasyiatul Aisyiyah Jawa Timur, mengadakan kegiatan Pelatihann Jurnalistik Berbasis WEB. Kegiatan ini berlangsung pada hari sabtu – ahad, 25 – 26 Juni 2011,bertempat di wisma Sejahtera Surabaya. Tema dari kegiatan ini adalah Belaja r Bersama Membuat Media Jurnalistik. Peserta kegiatan ini adalah kader – kader Nasyiah dari perwakilan daerah di Jawa Timur sebanyak 40 peserta. Tujuan diadakan kegiatan ini adalah memacu semangat kader Nasyiah di Jawa Timur untuk memanfaatkan media internet sebagai ruang aktualisasi menyatakan pendapat dan berbagi berita kegiatan yang diadakan di masing – masing daerah.
Dalam pelatihan ini peserta mendapatkan materi yang berhubungan dengan dunia tulis menulis dan media online. Peserta mendapatkan bimbingan fasilitator yang berasal dari kalangan profesional. Materi pertama adalah Pengantar Jurnalistik yang disampaikan oleh Pak A. Fatichuddin,Pimpinan redaksi MATAN dan mantan jurnalis berbagai harian di Indonesia. Materi kedua adalah Bagaimana Menulis Berita Menjadi Menarik yang disampaikan oleh Pak Ainur Rofi Sophiaan, tim redaktur MATAN dan jurnalis. Materi yang ketiga adalah workshop pembuatan media online yang dibimbing oleh Pak Joko Setiono, penggiat blogger dari Malang.
Sepulang dari kegiatan pelatihan menuju ke daerah masing – masing, peserta diharapkan memiliki kemampuan untuk membuat berita tentang kegiatan Persyarikatan Muhammadiyah yang diadakan oleh daerah.
]]>Mari kita ikuti kegiatan ini dengan sebaik - baiknya, guna menjalin komunikasi efektif dan silaturahim yang kuat diantara seluruh kader Nasyiah Jawa Timur.
Semoga kegiatan yang berlangsung dua hari ini, 25 - 26 Juni 2011, berlangsung lancar dan bahagia.
]]>Jauh sebelum Kartini lahir dengan ide – ide briliannya untuk kesetaraan perempuan di Inodonesia, bangsa kita telah memiliki perempuan – perempuan hebat yang berperan di bidang politik. Ratu Sima dengan kegigihannya mempertahankan kejujuran, dia rela menghukum anak kandungnya yang terbukti telah mencuri emas milik Negara, Tribuwahana Tungga Dewi, Ibunda dari Hayam Wuruk, berhasil membawa kerajaan Majapahit dari ancaman keruntuhan menuju Negara yang kuat dan berpengaruh di Nusantara.
Sejarah Islam turut pula mencatat perempuan – perempuan luar biasa yang berhasil mengubah dunia. Ratu Balqis dengan keberaniannya pemimpin pasukannya bergerak dari Somalia Afrika menuju ke Yerusalem untuk bertemu dengan Nabi Sulaeman, Aisa istri Raja Firaun yang berani menentang tirani suaminya untuk tetap menyembah Allah SWT, Ibunda Hajar , dengan kerelaan hati tinggal di tengah padang pasir Makkah untuk menjaga amanat suaminya Nabi Ibrahim, berlari dari Safa dan Marwah guna mendapat setetes air untuk menyambung kehidupan beliau dan anaknya yang kelak menjadi seorang Nabi pula.
Pada masa Rasulullah, banyak sekali model yang bisa kita contoh tentang kesetaraan perempuan dengan laki – laki. Ibunda Khadijah adalah perempuan pengusaha yang diperhitungkan pada saat itu, Ibunda Aisiyah sang intelektual muda, melalui kecerdasan otaknya banyak hadis yang diriwayatkan melalui beliau. Zaynab binti Jahsy, profesinya sebagai penyamak kulit binatang, Ummu Salim binti Malhan yang berprofesi sebagai tukang rias pengantin, istri Abdullah ibn Mas’ud dan Qilat Ummi Bani Anmar dikenal sebagai wiraswastawan yang sukses, al-Syifa’ yang berprofesi sebagai sekretaris dan pernah ditugasi oleh Khalifah ‘Umar sebagai petugas yang menangani pasar kota Madinah. Begitu aktif kaum wanita pada masa Nabi, maka ‘A’isyah pernah mengemukakan suatu riwayat “Alat pemintal di tangan wanita lebih baik dari pada tombak di tangan kaum laki-laki.” Dalam riwayat lain Nabi pernah mengatakan “Sebaik-baik permainan seorang wanita muslimah di dalam rumahnya adalah memintal/menenun”.
Kedudukan perempuan pada masa Nabi sering dilukiskan dalam syair sebagai dunia mimpi (the dream of woman). Kaum perempuan dalam semua kelas sama-sama mempunyai hak dalam mengembangkan profesinya . Seperti dalam karier politik, ekonomi, dan pendidikan, suatu kejadian yang sangat langka sebelum Islam. Tidak ditemukan ayat atau hadits yang melarang kaum perempuan aktif dalam dunia politik. Sebaliknya al-Qur’an dan hadits banyak mengisyaratkan kebolehan perempuan aktif menekuni berbagai profesi.
Dalam Q., s. al-Tawbah/9:71 dinyatakan:
“Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebagian mereka adalah auliya bagi sebagian yang lain, mereka menyuruh mengerjakan yang ma’ruf, mencegah yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan taat kepada Allah dan rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat dari Allah, sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”.
Kata awliya’ dalam ayat tersebut di atas menurut Quraish Shihab mencakup kerjasama, bantuan, dari penguasaan; sedangkan “menyuruh mengerjakan yang ma’ruf” mencakup segala segi kebaikan, termasuk memberi masukan dan kritik terhadap penguasa.
Apabila dilihat dari jejak sejarah sosial tentang keberadaan perempuan pada masa kenabian Muhammad SAW serta pada masa klasik di Indonesia, perempuantelah menunjukkan rekayasa kesetaraan gender. Tidak ada pertentangan yang berarti tentang kedudukan perempuan di ruang public serta tentang kedudukan lelaki di ruang domestik. Kerjasama yang harmonis antara lelaki dan perempuan telah menempatkan dua makhluk manusia yang berbeda sebagai dimensi subjek yang saling melengkapi dan menghargai.
Lompatan peristiwa tersebut seolah terlepas ketika dunia masuk pada masa penguasaan Eropa di dunia (abad 15 - 16). Kawasan Eropa yang dibelenggu dalam doktrin nasrani dan perpaduan konsep budaya hellenistik dan Yahudi, kembali menempatkan perempuan sebagai the second sex. Pada masa ini perempuan ditempatkan sebagai makhluk setengah manusia dan penyihir. Bahkan tradisi Yahudi menegaskan bahwa perempuan adalah “setan betina” yang harus diwaspadai. Seiring itu pula hukum fiqih Islam juga turut terpengaruh pada kebudyaan patriarkhal suku bangsa Arab yang kembali menempatkan perempuan sebagai manusia setengah merdeka berbeda dengan konsep perempuan pada masa Nabi Muhammad SAW. Hal inilah yang kemudian mendorong kaum perempuan untuk berjuang kembali mendapatkan kesetaraan dan pengakuan tentang kemampuan dirinya di ruang publik serta mengharapkan kerelaan kaum lelaki untuk menyeimbangkan potensi dirinya di ruang domestik.
Belenggu tradisi Eropa yang mengakar kuat di dunia saat ini (karena kemenangan di Perang Dunia II) telah mewarnai konsep pemikiran manusia di seluruh dunia. Pertentangan paham pengertian gender yang beragam juga turut mempengaruhi kontruksi sosial di masyarakat. Jika konsep pemikiran di masyarakat tetap pada ideologi tradisional Eropa maka kedudukan perempuan tidak akan pernah berubah, perempuan tetap harus terus berjuang untuk mencapai kesetaraannya. Sementara sejarah Islam yang sebenarnya sesuai dengan ajaran di Al Quran telah menempatkan perempuan dalam posisi yang benar – benar setara dan tidak ada perbedaan. Konsep berpikir inilah yang harus terus kita dengungkan. Sehingga kita bisa mewujudkan dunia impian kaum perempuan pada masa Rasulullah SAW.
Malang, 18 April 2011
Nurul V3
Sumber
Jurnal pemikiran Islam Paramadina
Resume Diskusi Nasyiah Kota Malang
Sejarah Kartini
]]>
Sangat berbeda. Sungguh sangat berbeda. Ketika kami berbicara tentang pengandian kepada masyarakat berdasarkan sudut pandang kami sebagai warga Nasyiatul Aisyiyah sejati. Maka yang kami bicarakan adalah pengabdian yang sebenarnya kepada masyarakat. Penih kerelaan hati, kami sediakan waktu, energi dan materi untuk beribadah di jalan Allah melalui organisasi otonom Muhammadiyah. Kami tuangkan tiap - tiap kemampuan kami untuk kebaikan masyarakat. Tidak ada keuntungan yang kami dapatkan. Hanya senyum ikhlas dan doa ketulusan yang kami dapatkan dari mereka - mereka yang telah merasakan setiap kebaikan Allah yang diutus melalui kami. Kami sangat berbeda, dengan pengabdian yang lainnya, yang mengatasnamakan kepentingan rakyat dan kepentingan rakyat serta perwakilan rakyat.
Perjalanan kami hanya tinggal separoh lagi. Sebagian program kerja yang telah kami rencanakan telah kami jalankan dengan sebaik- baiknya sesuai dengan batas kemampuan kami. Sebagian program yang lainnya akan kami pada separoh perjalanan ke depan. Tentu saja tetap sesuai dengan batas kemampuan kami.
Usia pengurus Nasyiah merupakan usia produktif. Rentang usia 22 - 35 tahun. Pada saat kelompok perempuan merencanakan kehidupan yang matang. Membentuk keluarga, melaksanakan sunnah, menggenapkan agama. Namun, sungguh luar biasa ditengah kesibukan sebagai wanita pekerja karena tuntutan zaman yang serba kapitalis dan menjadi ibu serta istri, pengurus Nasyiah tetap menyempatkan waktunya untuk melaksanakan amanah persyarikatan. Jadi mohon dimaklumi, apabila terjadi grafik naik turun didalam kepengurusan dan pelaksanaan program (salah satunya ada pengurus yang cuti karena melahirkan).
Separoh periode kepengurusan ini akan diakhiri dan diawali dengan musyawarah kerja wilayah, yang Insya Allah akan diadakan di Surabaya, hari ahad 25 - 26 Juni 2011. Bersamaan dengan itu diadakan kegiatan pelatihan jurnalistik. Musykerwil akan dihadiri oleh teman - teman pengurus Daerah. Kita akan adakan reuni Nasyiah Jawa Timur. Semoga dengan musykerwil ini, tali silaturahim antar pengurus Nasyiah daerah di provinsi Jawa Timur semakin kuat dan solid
Albirrumanittaqo
]]>
Dua jam sebelum saya memutuskan untuk menulis ini, saya baru saja mengikuti acara Sarasehan Nasional yang diadakan oleh Laboratorium Pancasila Universitas Negeri Malang. Sarasehan yang berlangsung dua hari tersebut, mengambil tema “Meneguhkan Pilar – Pilar Kehidupan Berbangsa dan Bernegara” (Pancasila, UUD 1945. NKRi dan Bhineka Tunggal Ika). Dihadiri oleh pembicara Nasional, seperti Siswono Yudhohusodo, Din Syamsudin, Romo Muji Sutrisno, Sri Edi Swasono dan lainnya. Inti pembicaraan dalam sarasehan tersebut sama bahwa, bangsa kita memerlukan keempat pilar tersebut untuk bisa menjadi bangsa yang hebat sebagaimana yang dicita – citakan oleh para pendiri bangsa.
Namun, dalam tulisan ini saya tidak ingin membahas apa yang disampaikan oleh tokoh – tokoh nasional, yang ingin saya bicarakan disini adalah, tanggapan dari salah seorang peserta tentang sarasehan tersebut. Adalah seorang mahasiswa Jepang bernama Sasaki, dengan bahasa Indonesia yang terbata – bata, Sasaki mengatakan bahwa dia datang ke Indonesia untuk belajar tentang Pancasila. Dia mengatakan bahwa Pancasila belum berhasil menjadi ideologi bangsa Indonesia, karena bangsa Indonesia ternyata belum memiliki rasa toleransi, terutama pada hal yang kecil – kecil dan dianggap remeh.
Wahai kawan, apakah engkau bisa menebak apa yang membuat Sasaki mengatakan demikian??? Jawabannya adalah………………Dia mengatakan bahwa selama sarasehan berlangsung sering terdengar suara dering HP dari peserta. Padahal sejak awal MC telah mengingatkan bahwa peserta sarasehan diharapkan untuk men-silent suara HP-nya.
Pyyuuuhhh……………….ketika Sasaki mengatakan jujur saya maluuuuuuu sekali, karena beberapa kali saya menerima dan membalas sms dari HP saya, meskipun HP saya tidak berbunyi.
Tidak salah jika Taufik Ismail mengatakan Malu Aku Jadi Orang Indonesia. Berikut adalah puisinya
Malu Aku Jadi Orang Indonesia
Taufik Ismail
I
Ketika di Pekalongan, SMA kelas tiga
Ke Wisconsin aku dapat beasiswa
Sembilan belas lima enam itulah tahunnya
Aku gembira jadi anak revolusi Indonesia
Negeriku baru enam tahun terhormat diakui dunia
Terasa hebat merebut merdeka dari Belanda
Sahabatku sekelas, Thomas Stone namanya,
Whitefish Bay kampung asalnya
Kagum dia pada revolusi Indonesia
Dia mengarang tentang pertempuran Surabaya
Jelas Bung Tomo sebagai tokoh utama
Dan kecil-kecilan aku nara-sumbernya
Dadaku busung jadi anak Indonesia
Tom Stone akhirnya masuk West Point Academy
Dan mendapat Ph.D. dari Rice University
Dia sudah pensiun perwira tinggi dari U.S. Army
Dulu dadaku tegap bila aku berdiri
Mengapa sering benar aku merunduk kini
II
Langit akhlak rubuh, di atas negeriku berserak-serak
Hukum tak tegak, doyong berderak-derak
Berjalan aku di Roxas Boulevard, Geylang Road, ebuh Tun Razak,
Berjalan aku di Sixth Avenue, Maydan Tahrir dan Ginza
Berjalan aku di Dam, Champs Élysées dan Mesopotamia
Di sela khalayak aku berlindung di belakang hitam kacamata
Dan kubenamkan topi baret di kepala
Malu aku jadi orang Indonesia.
III
Di negeriku, selingkuh birokrasi peringkatnya di dunia nomor satu,
Di negeriku, sekongkol bisnis dan birokrasi
berterang-terang curang susah dicari tandingan,
Di negeriku anak lelaki anak perempuan, kemenakan, sepupu
dan cucu dimanja kuasa ayah, paman dan kakek
secara hancur-hancuran seujung kuku tak perlu malu,
Di negeriku komisi pembelian alat-alat berat, alat-alat ringan,
senjata, pesawat tempur, kapal selam, kedele, terigu dan
peuyeum dipotong birokrasi
lebih separuh masuk kantung jas safari,
Di kedutaan besar anak presiden, anak menteri, anak jenderal,
anak sekjen dan anak dirjen dilayani seperti presiden,
menteri, jenderal, sekjen dan dirjen sejati,
agar orangtua mereka bersenang hati,
Di negeriku penghitungan suara pemilihan umum
sangat-sangat-sangat-sangat-sangat jelas
penipuan besar-besaran tanpa seujung rambut pun bersalah perasaan,
Di negeriku khotbah, surat kabar, majalah, buku dan
sandiwara yang opininya bersilang tak habis
dan tak utus dilarang-larang,
Di negeriku dibakar pasar pedagang jelata
supaya berdiri pusat belanja modal raksasa,
Di negeriku Udin dan Marsinah jadi syahid dan syahidah,
ciumlah harum aroma mereka punya jenazah,
sekarang saja sementara mereka kalah,
kelak perencana dan pembunuh itu di dasar neraka
oleh satpam akhirat akan diinjak dan dilunyah lumat-lumat,
Di negeriku keputusan pengadilan secara agak rahasia
dan tidak rahasia dapat ditawar dalam bentuk jual-beli,
kabarnya dengan sepotong SK
suatu hari akan masuk Bursa Efek Jakarta secara resmi,
Di negeriku rasa aman tak ada karena dua puluh pungutan,
lima belas ini-itu tekanan dan sepuluh macam ancaman,
Di negeriku telepon banyak disadap, mata-mata kelebihan kerja,
fotokopi gosip dan fitnah bertebar disebar-sebar,
Di negeriku sepakbola sudah naik tingkat
jadi pertunjukan teror penonton antarkota
cuma karena sebagian sangat kecil bangsa kita
tak pernah bersedia menerima skor pertandingan
yang disetujui bersama,
Di negeriku rupanya sudah diputuskan
kita tak terlibat Piala Dunia demi keamanan antarbangsa,
lagi pula Piala Dunia itu cuma urusan negara-negara kecil
karena Cina, India, Rusia dan kita tak turut serta,
sehingga cukuplah Indonesia jadi penonton lewat satelit saja,
Di negeriku ada pembunuhan, penculikan
dan penyiksaan rakyat terang-terangan di Aceh,
Tanjung Priuk, Lampung, Haur Koneng,
Nipah, Santa Cruz dan Irian,
ada pula pembantahan terang-terangan
yang merupakan dusta terang-terangan
di bawah cahaya surya terang-terangan,
dan matahari tidak pernah dipanggil ke pengadilan sebagai
saksi terang-terangan,
Di negeriku budi pekerti mulia di dalam kitab masih ada,
tapi dalam kehidupan sehari-hari bagai jarum hilang
menyelam di tumpukan jerami selepas menuai padi.
IV
Langit akhlak rubuh, di atas negeriku berserak-serak
Hukum tak tegak, doyong berderak-derak
Berjalan aku di Roxas Boulevard, Geylang Road, Lebuh Tun Razak,
Berjalan aku di Sixth Avenue, Maydan Tahrir dan Ginza
Berjalan aku di Dam, Champs Élysées dan Mesopotamia
Di sela khalayak aku berlindung di belakang hitam kacamata
Dan kubenamkan topi baret di kepala
Malu aku jadi orang Indonesia.
Menyampaikan Selamat Menunaikan Ibadah Puasa Ramadhan
Semoga Nilai Ibadah Kita Pada Ramadhan Ini Semakin Meningkat
Dan Semoga Kita Dipertemukan Dengan Ramadhan Tahun Depan
Al Birrumanittaqo
]]>Segenap Pimpinan Wilayah Nasyiatul Aisyiyah Jawa Timur
Mengucapkan turut berbelasungkawa atas meninggalnya
Bapak Nidhom Hidayatulah
Ibu Fira Bernata (Istri Pak Din Syamsudin)
Semoga amal ibadah beliau diterima di sisi Allah SWT, Amien
Dan bersiaplah kami untuk mengemban sebagai pimpinan umat kelak, menjadi penyambung estafet perjuangan Muhammadiyah untuk mewujudkan cita - cita Muhammadiyah
]]>
Berdasarkan tinjauan medis, yang telah dilakukan oleh RS Ketergantungan Obat Jakarta, pimpinan Dr Diah Setia Utami, Sp.Kj.MARS. 70% pengguna narkoba berasal dari keluarga utuh dan tidak ada masalah serius didalamnya. Kenapa hal ini bisa terjadi???? Sebuah pertanyaan yang harus kita cari bersama jawabannya……………..Dan jawaban yang selama ini menuju titik kebenaran adalah KESALAHAN KOMUNIKASI.
Kita sebagai manusia dewasa telah memahami, bahwa pernikahan adalah jalan yang diberikan oleh Tuhan untuk menyalurkan hasrat biologis yang dimiliki oleh manusia dengan tujuan untuk melestarikan keturunan, serta membuat hati dan jiwa menjadi tentram dan nyaman, hal ini ditegaskan kembali dalam agama Islam, sebagai bentuk penyempurnaan agama. Betapa luhurnya sebuah pernikahan ketika didasari dengan ideologi dan ilmu yang kuat bagaimana membentuk sebuah organisasi baru yang minimalis bernama “keluarga”.
Keluarga merupakan ruang interaksi yang membutuhkan pola toleransi khusus, agar tidak terjadi kesalahan dalam proses pembelajaran di dalamnya. Didalam keluarga diperlukan komunikasi efektif, dimana pesan disampaikan dengan cara yang tepat sehingga memberikan perasaan dimengerti, dihargai dan didengar. Keluarga yang terjalin dalam pola komunikasi yang efektif akan membentuk pribadi dengan karakter positif ketika berada sebagai anggota masyarakat, begitupula sebaliknya keluarga yang dibentuk dengan pola komunikasi yang berantakan akan membentuk pribadi dengan karakter negatif ketika berada sebagai anggota masyarakat.
Orang tua adalah contoh hidup bagi anak. Maka orang tua harus menjadi model utama bagi anak. Kenapa saat ini terjadi beberapa kasus balita perokok???, maka jawabannya adalah lihatlah orang tuanya dan lingkungannya. Pembentukan karakter seorang anak tidak akan lepas dengan hal tersebut. Lantas bagaimana hubungannya dengan anak - anak yang terjebak dengan permasalahan narkoba sementara orang tuanya harmonis dan baik – baik saja??? Maka jawabannya adalah lihatlah kembali kepada orang tuanya dan lingkungannya, kenapa demikian???
Seringkali orang tua memposisikan dirinya, sebagai orang yang mengetahui segalanya dan memahami semuanya. Seringkali orang tua melihat perilaku anak mereka dari sudut pandang mereka sebagai orang tua, bukan dari sudut pandang anak. Padahal anak adalah manusia yang sama dengan dirinya yang memiliki kemampuan berpikir ketika akan dan untuk bertindak. Tanpa kita sadari pula seorang Ibu, seringkali memposisikan dirinya menjadi “polisi”, bertugas untuk melakukan introgasi dan memerintah. Sementara ayah berperan sebagai “hakim”, bertugas sebagai eksekutor dan pengambil keputusan. Sementara anak adalah terdakwa yang siap dipenjara, sebagaimana yang diyakini oleh pendahulu kita yang menganggap anak adalah makhluk liar yang harus dijinakkan.
Para psikolog, psikiater, guru dan semua orang yang ada di dunia ini, pasti pernah mengatakan bahwa masa remaja adalah masa yang paling berat yang dialami oleh manusia. Secara biologis mereka adalah kelompok yang siap dengan perkawinan sementara secara psikologis mereka berada pada masa transisi. Pada masa ini seringkali sebagai orang tua kita tidak paham apa yang diinginkan oleh para remaja, dan ironisnya para remajapun juga tidak paham dengan apa yang diinginkannya. Sebagaimana penulis ingat kembali, ketika masa SMA yang ada hanyalah keinginan untuk selalu bersenang – senang dan berbuat yang tidak biasa, namun di satu sisi yang lain, keinginan tersebut terhambat karena kita terbatasi oleh kesenangan orang lain pula, belum lagi karena keadaan orang tua yang tidak memungkinkan bagi para remaja untuk mewujudkan keinginannya. Hal ini yang kemudian membuat sebagian remaja mengalami stres dan putus asa, sehingga ada beberapa dari mereka yang terjebak pada pergaulan yang tidak menguntungkan, seperti terjerumus pada narkoba dan seks bebas.
Pada masa menjadi orang tua, patutlah kiranya kita memiliki ilmu tentang bagaimana menjadi orang tua. Jalinan komunikasi yang tepat antara orang tua dan anak akan menghasilkan hubungan yang harmonis sehingga tercipta keluarga yang bahagia. Orang tua adalah contoh nyata bagi anak, maka jadilah idola dan panutan bagi anak.
Tanpa disadari adakalanya kita sebagai orang tua melakukan pola komunikasi yang salah sehingga jalinan komunikasi menjadi terhanbat, seperti :
Maka bagaimana berperan menjadi orang tua yang bisa menjadi idola bagi anak – anaknya???
Berikut adalah sedikit contoh tindakan yang bisa dilakukan oleh orang tua ketika berhadapan dengan pasangan dan anak – anaknya
Dan sebaiknya orang tua menghindari sikap berikut :
Keluarga adalah tempat pertemuan insan yang saling berkasih dan sayang. Allah SWT telah mengingatkan kepada manusia bahwa keluarga akan menjadi fitnah bagi kita, maka berusahalah untuk mengajak mereka menghindari api neraka. Sebagaimana pula pesan sayyidina Ali bin Abi Thalib, didiklah anak kita sesuai dengan zaman. Jika kita merindukan keluarga yang harmonis, mencita – citakan sebuah rumah adalah surga maka teruslah belajar, belajar dan belajar untuk menjadi orang tua yang bisa diidolakan oleh anak – anaknya.
Saya memang belum menikah sehingga otomatis saya belum berkeluarga, namun ilmu yang saya dapatkan ini sungguh luar biasa untuk dibagikan kepada sesama manusia yang terus berupaya untuk selalu menjadi lebih baik
Malang, 28 Juli 2010 (V3)
]]>Jakarta (ANTARA News) - Masih ingat Perang Teluk 2003 yang sukses mendongkel Saddam Hussein di Irak? Kala itu Pasukan AS membawa gerombolan wartawan sehingga muncul istilah embedded journalist.
Dengan cara itu, operasi militer AS ke Irak ditulis berdasarkan versi AS dan menutup “suara lain”, terutama media Arab dan media netral seperti BBC.
Saking ingin menutup “suara lain”, AS membom markas Al-Jazeera dan TV Abu Dhabi, bahkan wartawan Tareq Ayyoub dari Al-Jazeera tewas dirudal.
Pada 2006, Israel mengadopsi metode itu saat “menghukum” Hizbullah di Lebanon, tapi gagal. Dua tahun kemudian, diulanginya di Gaza. Lagi-lagi gagal, malah reputasi Israel hancur karena dunia mendapatkan versi-versi lain mengenai Gaza.
Kini, giliran Freedom Flotilla memakai metode itu untuk “mengalahkan” Negara Yahudi itu karena opini publiklah yang bisa mengalahkan Israel.
Seperti AS di Perang Teluk atau Israel di Lebanon, Freedom Flotilla membawa rombongan media yang umumnya “suara lain” termasuk Al-Jazeera dan para pembela HAM, sastrawan, seniman serta politisi Barat.
Mereka hendak menulis “siapa sesungguhnya” Israel dan menyebarkan itu pada dunia.
Hari Minggu pekan lalu, Angkatan Laut Israel mencegat armada kapal milik satu LSM Turki yang hendak menyalurkan bantuan kemanusiaan ke Gaza dalam misi yang disebut Freedom Flotila.
Armada itu dicegah masuk Gaza, namun mereka ngotot. Komando Israel lalu bertindak. Kapal Mavi Marmara diserbu, sembilan tewas dan puluhan terluka.
Dunia serempak mengutuk, namun Israel menuduh flotilla telah memprovokasinya untuk berbuat ekstrem agar dunia mengutuk dan memusuhinya.
George Friedman, dalam Flotillas and the Wars of Public Opinion di jurnal intelijen online STRATFOR pada 31 Mei, menyebut Israel terjebak oleh metodenya sendiri yang dulu sukses membuat musuh Israel terdeskreditkan.
George menyebut misi Freedom Flotilla ibarat skenario “Exodus” yang ditulis Leon Uris pada 1950an dan mengisahkan propaganda Israel ketika mengusir Inggris dari Palestina.
Di penghujung Perang Dunia II Inggris yang menguasai Palestina membatasi arus imigran Yahudi ke Palestina dan yang melanggar ditahan di Siprus.
Zionis lalu merancang propaganda untuk mendeskreditkan Inggris dengan membawa warga Yahudi dari Siprus (kebanyakan anak-anak yang selamat dari pembantaian Nazi) untuk diapungkan di kapal “Exodus” tanpa perbekalan cukup.
Ketika dunia tahu Exodus terlunta-lunta di laut, dunia serentak menuduh Inggris telah menelantarkan warga Yahudi dan Inggris tertekan oleh opini dunia untuk kemudian membolehkan emigran Yahudi ke Palestina.
“Exodus” juga ingin menunjukkan pada dunia bahwa dengan memerangi Inggris, Israel dianggap antiimperialis seperti nasionalis India dan Mesir di masa itu sehingga niat sesungguhnya Zinois di Palestina tidak terlihat.
Zionis tahu dunia tak mengetahui isu Palestina dan ketidaktahuan ini diisinya dengan cerita-cerita keadaan Palestina berdasarkan versi Zionis.
Benar dan salah adalah urusan belakang karena yang terpenting adalah mendramatisasi perasaan “menjadi korban” agar dunia memihaknya. Konteks itulah yang terjadi pada Flotilla, demikian STRATFOR.
Sejak 1967 dan Hamas-Fatah retak, Palestina mengalihkan fokus perjuangan ke arah perundingan dengan mengekspos penderitaan warga Palestina di bawah penguasaan Israel.
Gaza adalah fokus dari fokus itu, dan manuver ini jauh lebih efektif ketimbang bom bunuh diri atau Intifada.
Palestina berusaha membentuk persepsi global bahwa mereka korban Israel sehingga bisa menempatkan Israel dalam posisi defensif terhadap opini publik global.
Freedom Flotilla yang dikomandani organisasi sipil Turki, memuat misi seperti itu.
Krisis
Seperti skenario Zionis ke Inggris dalam “Exodus,” flotilla berusaha mendefinisikan lagi “siapa sebenarnya” Israel sehingga persepsi negara-negara Barat terhadap Israel berubah, sekaligus memancing guncangan politik di dalam negeri Israel.
Di Israel sendiri ada dua kelompok bertentangan, yaitu mereka yang memandang isolasi internasional bisa membahayakan kelangsungan negara itu, dan mereka yang menilai tunduk pada flotilla adalah menunjukkan Israel itu lemah.
Kelompok terakhir menggambarkan flotilla sebagai persekongkolan kaum ekstrimis. Masalahnya, ada atau tidak ekstremis, flotilla sukses merusak citra Israel.
Faktanya, dengan cepat Israel diasingkan dunia, sementara hubungannya dengan Eropa dan AS terancam karena para politisi di kawasan ini pasti mempedulikan opini publik yang kini menentang Israel.
Israel mungkin akan didesak untuk membolehkan flotilla masuk Gaza, sementara musuh-musuh Israel memakai momen ini untuk membuktikan bahwa Israel memang haus darah.
Antipati dunia sendiri terus merusak reputasi Israel, bahkan terhadap hubungan Israel dengan negara-negara yang selama ini diangap penting, seperti Turki, Uni Eropa dan AS.
Pemerintah Turki selama ini berupaya menjauhkan diri dari Israel, namun ditentang militer dan kaum sekuler. Tapi insiden Mavi Marmara telah mempermudah Turki untuk menceraikan Israel.
Sementara AS mungkin meredefinisikan hubungannya dengan Israel karena pemerintahan Obama sudah jengkel pada Israel, apalagi, mengutip Washington Post (3/6), salah satu korban tewas di Mavi Marmara adalah warga negara AS.
Obama bisa saja mengikuti opini publik dunia sehingga hubungan AS-Israel memasuki babak baru yang tak menguntungkan Israel, sementara dunia akan menyerukan sanksi untuk Israel.
Washington Post melaporkan, pemerintahan Obama mempertimbangkan untuk tidak mempertahankan blokade Gaza dan akan mendesak Israel untuk membolehkan bantuan kemanusiaan masuk Gaza.
“Jelas kami menginginkan sebuah pendekatan baru ke Gaza,” kata seorang pejabat pemeritahan Obama seperti dikutip Washington Post (2/6).
Israel mungkin mengeluh telah diperlakukan tidak adil karena merasa diprovokasi, tapi seperti Inggris di era lalu, dunia tak menggubrisnya karena dunia tak melihat Israel sebagai “korban”. Lagi pula, siapa yang menumpahkan darah di Mavi Marmara?
Tak heran, jika editor Leon Wieseltier mengatakan di The New Republic (3/6), bahwa serangan ke Mavi Marmara justru menguntungkan mereka yang ingin mendelegitimasi blokade Israel ke Gaza.
Israel berusaha melawan opini dunia, namun di termin itu, isu yang diangkat tidak menyentuh kepentingan hakiki banyak bangsa dan Israel sendiri tak dianggap penting oleh banyak negara.
Sebaliknya, insiden Mavi Marmara memicu krisis politik di Israel, apalagi orang-orang Israel yang bersedia mengakomodasi Palestina, kini menguasai kembali wacana nasional.
Mungkin pemerintahan Benjamin Netanyahu akan bertahan, tapi Israel bakal menghadapi isolasi internasional. Sebaliknya jika jatuh, Negara Yahudi itu memasuki priode domestik yang tak menentu.
Israel pun kini terapung di lautan antah berantah, tak tahu bagaimana harus bersikap, karena opini publik menjadi jauh lebih sulit dikendalikannya, demikian George Friedman.
Sementara Freedom Flotilla dan misi-misi tanpa kekerasan lainnya akan terus ke Gaza dan jika Israel terpancing mengkerasinya maka Israel bakal “menepuk air di dulang, terpercik muka sendiri.” (*)
(AR09/B010)