Teringat Puisi yang pernah dibacakan oleh Taufik Ismail, yang berjudul Malu Aku Jadi Orang Indonesia. Ketika itu saya masih duduk di bangku MAN kelas 3, bersama teman – temanku kami mendengarkan puisi Taufik Ismail di Aula Fakultas Sastra gedung E6 Universitas Negeri Malang yang kemudian menjadi tempatku kuliah ketika menjadi mahasiswa. Saat itu, ketika mendengarnya ada gemuruh dalam hati, apa yang bisa saya banggakan sebagai penerus bangsa Indonesia??? Jikalau saya diperkenankan oleh Tuhan untuk jalan – jalan ke luar negeri apa yang bisa saya banggakan sebagai warga negara Indonesia???
Segenap Pimpinan Wilayah Nasyiatul Aisyiyah
Menyampaikan Selamat Menunaikan Ibadah Puasa Ramadhan
Semoga Nilai Ibadah Kita Pada Ramadhan Ini Semakin Meningkat
Dan Semoga Kita Dipertemukan Dengan Ramadhan Tahun Depan
Al Birrumanittaqo
Innalillahi wa Innailaihi rojiuun
Segenap Pimpinan Wilayah Nasyiatul Aisyiyah Jawa Timur
Mengucapkan turut berbelasungkawa atas meninggalnya
Bapak Nidhom Hidayatulah
Ibu Fira Bernata (Istri Pak Din Syamsudin)
Semoga amal ibadah beliau diterima di sisi Allah SWT, Amien
Dan bersiaplah kami untuk mengemban sebagai pimpinan umat kelak, menjadi penyambung estafet perjuangan Muhammadiyah untuk mewujudkan cita - cita Muhammadiyah
Pada hari selasa, tanggal 29 Juni 2010, saya mengikuti kegiatan seminar yang diadakan oleh BNN (Badan Narkotika Nasional) di hotel Gajahmada Kota Malang. Kedatangan saya ke sana untuk mewakili sekolah tempat saya mengajar, serta untuk mewakili diri saya sendiri guna mendapatkan ilmu baru, yang berhubungan dengan permasalahan narkoba. Namun, saya mendapatkan segudang ilmu baru yang tidak hanya berhubungan dengan masalah narkoba (yang menurut saya ya tetap itu – itu saja?). saya mendapatkan ilmu tentang jaringan, komunikasi efektif dan yang utama adalah ilmu menjadi orang tua yang benar, sehingga memunculkan ide tentang “Sekolah Menjadi Orang Tua”.
Sebuah kutipan berita dari : http://www.antaranews.com/berita/1275640373/freedom-flotilla-dan-perang-opini
Jakarta (ANTARA News) - Masih ingat Perang Teluk 2003 yang sukses mendongkel Saddam Hussein di Irak? Kala itu Pasukan AS membawa gerombolan wartawan sehingga muncul istilah embedded journalist.
Dengan cara itu, operasi militer AS ke Irak ditulis berdasarkan versi AS dan menutup “suara lain”, terutama media Arab dan media netral seperti BBC.
Saking ingin menutup “suara lain”, AS membom markas Al-Jazeera dan TV Abu Dhabi, bahkan wartawan Tareq Ayyoub dari Al-Jazeera tewas dirudal.
Pada 2006, Israel mengadopsi metode itu saat “menghukum” Hizbullah di Lebanon, tapi gagal. Dua tahun kemudian, diulanginya di Gaza. Lagi-lagi gagal, malah reputasi Israel hancur karena dunia mendapatkan versi-versi lain mengenai Gaza.
Kini, giliran Freedom Flotilla memakai metode itu untuk “mengalahkan” Negara Yahudi itu karena opini publiklah yang bisa mengalahkan Israel.